0
BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar  Belakang

Zakat merupakan ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap individu muslim yang sudah memenuhi kriteria kewajiban zakat. Syari’at zakat merupakan ibadah dalam bentuk membersihkan setiap kekayaan yang dimiliki oleh individu muslim. Dan seperti yang telah kita ketahui bersama, Zakat sendiri ada yang sifatnya pembersihan jiwa seorang muslim tanpa terkecuali (zakat fitrah), ada juga yang kewajibannya bersifat pembersihan harta yang diwajiban khusus bagi kalangan tertentu (terikat oleh ketentuan jumlah dan waktu [haul]) yang sering juga disebut dengan zakat mal seperti zakat kekayaan, zakat tijarah, zakat perhiasan emas, zakat harta temuan, zakat harta galian, dan zakat peternakan. Dalam tulisan kali ini, penulis mengkhususkan pembahasan selanjutnya pada persoalan zakat dalam artian kriteria yang ke dua ini (zakat mal).

2.    Rumusan Masalah

1.    Kapan zakat fitrah itu dilaksanakan ?
2.    Hadits tentang zakat fitrah
3.    Jumlah nisab zakat mal

3. Tujuan Pembuatan Makalah 
        
1.    Supaya mengerti pelaksanaan zakat fitrah
2.    Supaya mengerti dan dapat mengaplikasikan zakat mal di kalangan masyarakat      
3.    Supaya mengerti bahwa tidak semua kebaikan termasuk dalam shadaqah.




1.     Zakat Fitrah

Dari sahabat ibnu Umar ra.berkata :

عن ابْن عمر رضى الله عنهما قال : فرض رسو ل الله صلّى الله وسلّم زكا ة الفطْر صاعاً من تمر, أوصاعاً من شعيرعلى العبذ والحُرِّ والذَّكروالأَنثى والصّغير والكبير من المسلمين, وأمر بها أن تؤد قبْل خرو خِ النَا س إلى الصَلا ة
Artinya:
       Ibnu Umar RA menceritakan , “Rasulullah SAW mewajibkan agar membayar zakat fitrah satu sukat dari buah kurma atau satu sukat gandum atas setiap hamba sahaya orang merdek,  laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang tua dari umat islam, beliau menyuruh menyerahkannya sebelum orang keluar untuk shalat idul fitri”

       Penjelasan  :

1. Zakat Fitrah ialah Zakat yang dikeluarkan pada tanggal 1 syawal sebagai tanda penyucian diri setelah menjalankan puasa ramadhan,dan zakat  tersebut-bagikan kepada yang berhak sebesar satu sukat, sesuai keadaan daerah misalkan makanan pokoknya beras maka zakatnya brupa beras.pengeluaran yang seperti itu dinamakan Diqiyaskan atau disamakan .
2. Pada hadits ini dijelaskan bahwa bayi dan budak wajib membayar zakat namun yang membayar zakat tersebut adalah orang yang punya jadi misalkan ada bayi yang membayar zakat orang tuanya begitu pula dengan budak zakatnya dibayar majikannya.
3. Sebaiknya zakat fitrah dibayarkan sebelum shalat idhul fitri di tempat tersebut,misalkan terlambat dari waktu tersebut maka harus dibayar juga karena merupakan kewajiban, tetapi pahalanya seperti shadaqah biasa. Dan diutamakan memeberikan zakat tersebut kepada fakir miskin di tempat membayarnya .

 “Adapun hadits lain yang menjelaskan tentang zakat fitrah:

حَدَّثَنَا مَحْمُوْدُ بْنِ غِيْلاَنِ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ وَعَنْ زَيْدِ بْنِ سَلاَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَعِيْدِ الْخُدْرِى قَالَ قُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ اِذَا كَانَ نَبِيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَامَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ اَوْ صَاعًا مِنْ سَعِيْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ حَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ كَلَمِ بِهِ النَّاسِ مِنْ اِنِّى لاَرِى مَدَّيْنَ مِنْ سَمْرَا، الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ حَمْرٍ (رَوَاهُ التُّرْمُذِى فِى باَبِ مَا جَاءَ فِى صَدَقَةِ الْفِطْرِ الجزء الثَّانِى
keterangan hadist :

“ Sedekah (zakat) fitrah ini dinisabkan kepada lafadz “fithr” (fitri) karena ia menjadi wajib saat orang-orang telah menyelesaikan puasa ramadhan.”

Ibnu Khutaibah berkata maksud sedekah (zakat) fitrah adalah:

Sedekah (Zakat) jiwa yang diambil dari kata fitrah berarti tabiat dasar penciptaan. Namun pendapat pertama lebih mendasar, dan didukung oleh sabda beliau SAW pada sebagian jalur periwayatan hadits tersebut akan disebutkan (fitrah pada bulan ramadhan).

Ibnu daqiq al-Id berkata: menurut Urf Syar’i (syariat) telah memberi makna tersendiri bagi lafadz tersebut yakni kewajiban. Maka memahami lafadz pada hadits tersebut dengan makna syar’i adalah lebih tepat. Kenyataan bahwa sedekah ini dinamakan juga sebagai zakat. Telah mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Daqia. Sesuai dengan firman Allah: “Dan keluarkanlah zakat” yang kemudian Nabi menjelaskan ketentuan-ketentuan yang termasuk di dalamnya adalah zakat fitrah.
Dari sahabat Umar bin khatab ra.berkata :

أّْنّ ر سو ل الله صلى الله عليه وسلم ا مر بز كا ة الفٌطر أن تؤ دّ ي  قبل خر وخ الناّس ألى الصلا ة
“Rasulullah saw memerintahkan supaya mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang- orang keluar untuk menunaikan shalat (ied) .”

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفت وطعمة للمساكن.
“Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah, untuk membersihkan orang yang berpuasa dari omongan yang tidak ada manfaatnya dan omongan kotor, serta untuk memberi makanan pada orang yang miskin.”

Dan dijelaskan pula firman Allah Q.S At-Taubah ayat 60 tentang orang yang berhak menerima Zakat:

60.  Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
- Dosa orang yang tidak mengeluarkan zakat

     Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Kuda itu ada tiga macam: Berupa pahala, atau penutup kepentingan, atau dosa. Adapun yang berupa pahala, maka seorang yang menyediakannya untuk perang jihad fi sabilillah, lalu dipeliharanya dalam kebun, ladang dengan tali yang panjang, maka apa yang dimakan dalam kebun/ladang itu akan tercatat kebaikan bagi pemiliknya, dan andaikan kuda itu mendaki bukit, maka bekas-bekasnya dan kotorannya pun menjadi kebaikan, dan bila ia minum dari sungai, meskipun tidak bermaksud memberi minum, itu berupa kebaikan bagi pemiliknya. Adapun orang yang memelihara untuk kebanggaan, ria dan permusuhan terhadap orang Islam, maka itu berupa dosa semata-mata terhadap pemiliknya. (Bukhari, Muslim).

Dan ketika Nabi saw. ditanya tentang himar (keledai). Maka jawab Nabi saw.: Tiada diturunkan kepadaku mengenai himar, kecuali ini ayat yang penuh padat lengkap: faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarahu, waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarahu. (Siapa yang berbuat seberat zarrah kebaikan pasti ia akan melihat hasil pahalanya. Dan siapa yang berbuat seberat zarrah kejahatan maka pasti akan melihat hasil balasan dosanya). (Bukhari, Muslim).
Q.S. Al-Baqoroh (2) : 245

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan

2.   Zakat Mal

Zakat maal ialah Zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu atau lembaga dengan syarat- syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara hokum (syara’) .
    Syarat – syarat Harta: 

1.    Milik Penuh
2.    Berkembang
3.    Lebih dari kebutuhan pokok
4.    Bebas dari hutang
5.    Berlalu Satu haul

Istilah- istilah dalam zakat mal antara lain :

1.    Nisab ialah Batas nilai kekayaan yang dikenakan zakat
2.    Haul ialah masa pemilikan harta/kekayaan untuk menghitung (mengeluarkan) zakat.
3.    Kadar zakat ialah jumlah zakat yang harus dikeluarkan.

Mengenai ketentuannya :

1.    Emas, nisabnya 94 gram,haulnya satu tahun, dan kadar zakatnya 2,5%
2.    Perak, nisabnya 672 gram, haulnya satu tahun, dan kadar zakatnya 2,5%
3.    Binatang ternak(kambing) ,nisabnya 40 ekor,haul satu tahun, jika jumlah kambing ada 40 – 120 ekor kadar zakatnya 1 ekor,
4.    Tumbuh-tumbuhan (padi ), nisabnya 1.350 kg gabah atau senilai 759 kg beras,haulnya setiap masa panen, kadar zakatnya 5% jika pengairan sulit,dan 10% jika pengairan mudah.

حَدَّثَنَا مُحَمَّد اَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ خَبَرَنَا زرباء بنِ اِسحَاق عَنِ بْنِ عَبْدُ اللهِ بْنِ صَيْفِ عَنْ اَبِى مَوْلَى بْنِ عَبَّاسْ رَضِيَ الله عَنْهُمَا : قَالَ رَسُوْل اللهِ صَامَ لِمُعَادِ بْنِ جَبَلَ حِيْنَ بَعْثَهُ اِلَى الْيَمَنِ : اِنَّكَ مَتَأْتِى قَوْمًا اَهْلَ كِتَابٍ فَاءِذَ جِئْنَهُمْ فَادْعُهُمْ. إلَى اَنْ يَشْهَدُوْ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ فَإِنْ هُمْ اَطَاعُوْ اللهَ بِذلِكَ فَأُخْبِرْهُمْ. اَنَّ اللهَ قَدْ فِرَنِى عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَدُ مِنْ اَغْنِيَائِهِمْ فَتُرِدُ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ اَطَاعُوْ لَكَ بِذَالِكَ فَاَيَّكَ وَكْرَثِمِ الْمُوَالِهِمْ وَابودعوه الظُّلُوْمِ فَإِنَّهُ لَبُسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ (رواه البخارى) "باب حد الصدقة من اعنياء وحوف الفقراء

Artinya:

“Dari Muhammad dari Abdullah berkata Rasullulah SAW kepada Muazd bin Hambal dia diutus ke Yaman: Sesungguhnya kamu datang pada suatu kaum ahli kitab maka ketika kamu telah datang pada mereka serulah mereka pada persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka menaatinya maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu setiap hari dan malam. Apabila mereka menaatinya maka beri tahukanlah bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah dalam harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka lalu diberikan kepada orang miskin mereka. Apabila mereka menaatimu dalam hal itu maka hendaklah engkau berhati-hati harta terbaik mereka dan waspadalah terhadap do’adalah orang-orang yang teraniaya karena tidak ada penghalang dengan Allah.”

Tahrij hadist :

Hadist disamping diriwayatkan oleh bukhori dan bab zakat juga diriwayatkan oleh perowi-perowi yang lainnya:

1. Imam Muslim dalam Shohih Muslim bab Iman No. Hadits 26 dan 31.
2.An-Nasa’i dalam Sunan Nasa’i bab zakat.
3. Ad-Darimi dalam Sunan Darimi bab zakat.

Dari sahabat Abu Said Alkhudri ra,dari Nabi saw, bersabda :

ليس فيما دون خمسةِاوسقِ صد قة ولا فيمادون خمس ذود صدقة,ولا فيمادونخ خمس أواق صدقة

“Tidak wajib zakat atas hasil bumi yang jumlahnya kurang dari lima wasaq, dan tidak wajib zakat atas hewan yang jumlahnya kurang dari lima dzaud ; serta tidak wajib zakat atas perhiasan (emas atau perak) yang jumlahnya kurang dari lima uwaq.”
3.    Semua Amal Kebaikan adalah Shadaqah

Dari sahabat ibnu Abi Saibah r.a. dari nabi saw bersabda :

كل معروف صدقة

“Setiap kebajikan itu adalah sedekah”


عن خَذ يفقة رضي الله عنه عنِ النبيِّ صلى الله وسلَم قال : كَلُّ معْروفٍ صدقةٌ

Artinya :
    Diriwayatkan dari Hudzaifah r.a bahwa Nabi saw . bersabda, “setiap kebaikan adalah Sedekah.” (muslim 3/8) .

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال : جأ رجل الى النبى صلى الله عليه وسلم : ان تصدق وانت صحيح شحيح، تحش الفقر وتأمل الغنى، ولا تهمل حتى اذا بلغت الحلقوم، قلت : لفلان كذا، ولغلان كذا، وقد كان لفلان.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dia berkata : seorang laki-laki menemui nabi saw lalu ia bertanya, “ya rasulallah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” rasulullah bersabda, “ sedekah yang kau berikan ketika kamu segar bugar, ketika kamu merasa enggan karena khawatir menjadi miskin dan mendambakan kekayaan janganlah kamu menunda nunda sedekah sehingga nyawamu sampai dikerongkongan barulah kau katakana harta saya nanti sekian untuk ahli waris yang ini, padahal tanpa kau katakana begitu hartamu pasti akan menjadi milik ahli warismu. (H.R. Bukhori Muslim : 1419)

4.    Shadaqah yang Utama
Di antara shadaqah yang utama menurut Islam adalah sebagai berikut:

1.        Shadaqah Sirriyah
Yaitu shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Shadaqah ini sangat utama karena lebih medekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer.

Di antara hikmah menyembunyikan shadaqah kepada fakir miskin adalah untuk menutup aib saudara yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah, bahwa dia orang papa yang tak punya sesuatu apa pun.Ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam ihsan terhadap orang fakir.

2.       Shadaqah Dalam Kondisi Sehat
Bersedekah dalam kondisi sehat dan kuat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan tipis harapan kesembuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

"Shadaqah yang paling utama adalah engkau bershadaqah ketika dalam keadaan sehat dan bugar, ketika engkau menginginkan kekayaan melimpah dan takut fakir. Maka jangan kau tunda sehingga ketika ruh sampai tenggorokan baru kau katakan, "Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian." (HR.al-Bukhari dan Muslim)

3. Shadaqah Setelah Kebutuhan Wajib Terpenuhi
Nabi shallallahu‘alihi wasallam bersabda,
"Tidak ada shadaqah kecuali setelah kebutuhan (wajib) terpenuhi." Dan dalam riwayat yang lain, "Sebaik-baik shadaqah adalah jika kebutuhan yang wajib terpenuhi." (Kedua riwayat ada dalam al-Bukhari)

4.    Shadaqah dengan Kemampuan Maksimal
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alihi wasallam,
"Shadaqah yang paling utama adalah (infak) maksimal orang yang tak punya. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu." (HR. Abu Dawud)
Beliau    juga    bersabda,

"Satu dirham telah mengalahkan seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya," Bagaimana itu (wahai Rasululullah)? Beliau menjawab, "Ada seseorang yang hanya mempunyai dua dirham lalu dia bersedakah dengan salah satu dari dua dirham itu. Dan ada seseorang yang mendatangi hartanya yang sangat melimpah ruah, lalu mengambil seratus ribu dirham dan bersedekah dengannya." (HR. an-Nasai, Shahihul Jami')



5.    Menafkahi Anak Istri
Berkenaan dengan ini Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Seseorang apabila menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahalanya maka dia mendapatkan pahala sedekah." ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

6    .Bersedekah Kepada Kerabat
Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha'. Ketika turun ayat,
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai." (QS. 3:92)

Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa Bairuha' diserahkan kepada beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak beliau. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam menyarankan agar ia dibagikan kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi tersebut dan membaginya untuk kerabat dan keponakannya.(HR.al-Bukhari    dan    Muslim)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam juga bersabda,
"Bersedakah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sedangkan jika kepada kerabat maka ada dua (kebaikan), sedekah dan silaturrahim." (HR. Ahmad, an-Nasa'i, at-Tirmidzi    dan    IbnuMajah)


وفى رواية (لا توعى فيوعى الله عليك، ارضخى ماستطعت) (رواه البخار)

“Menurut riwayat lain dari asma’ binti abu bakar r.a. nabi saw bersabda kepadanya : janganlah jau simpan hartamu untuk meghindari sedekah; maka allah akan menahan anugrahNya kepadamu, infakkanlah menurut kemampuanmu.” (Hadist iji diriwayatkan oleh Al-Bukhori : 1434)

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال : جأ رجل الى النبى صلى الله عليه وسلم : ان تصدق وانت صحيح شحيح، تحش الفقر وتأمل الغنى، ولا تهمل حتى اذا بلغت الحلقوم، قلت : لفلان كذا، ولغلان كذا، وقد كان لفلان.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dia berkata : seorang laki-laki menemui nabi saw lalu ia bertanya, “ya rasulallah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” rasulullah bersabda, “ sedekah yang kau berikan ketika kamu segar bugar, ketika kamu merasa enggan karena khawatir menjadi miskin dan mendambakan kekayaan janganlah kamu menunda nunda sedekah sehingga nyawamu sampai dikerongkongan barulah kau katakana harta saya nanti sekian untuk ahli waris yang ini, padahal tanpa kau katakana begitu hartamu pasti akan menjadi milik ahli warismu.” (H.R. Bukhori Muslim : 1419).



BAB III
PENUTUP
A. Simpulan

1. Zakat pengertian spesifiknya telah ditentukan jenis,jumlah, waktu, dan sasaran.
2. Sedangkan infaq lebih luas dan bersifat umum disbanding dengan zakat ,kalau infaq jenis,waktu, sasaran bersifat bebas.
3.  Shadaqah penrtiannya lebih luas lagi dari pada infaq,mengenai jenis, waktu, sasaran boleh di berikan kepada siapa saja .
4. Zakat fitrah merupakan  zakat yang dikeluarkan pada 1 syawal sebelum pelaksanaan shalat ied,sebagai tanda penyucian diri dan sebagai penyempurna ibadah puasa yang dilakukakan sebulan penuh.

B. Penutup

Penulis menyadari kebenaran menyangkut makalah ini datangnya dari Allah semata, dan kekurangan atau kekeliruan disebabkan hanya karena kefakiran ilmu penulis. Sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran guna memperbaiki makalah ini. Demikian mudah-mudahan makalah kami  dapat bermanfaat bagi pembaca.


Daftar Pustaka
Masyhur,K.H. Kahar. Bulughul Maram. Rineka Cipta : Jakarta, 1992, cet I
Al-albahi,Muhammad Nashiruddin. Ringkasan Shahih Muslim. Gema insani: Jakarta,2005, cet 1

Poskan Komentar

 
Top